Home » » KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

Posted by Mr. Dihya
Mr. Dihya, Updated at: Juli 09, 2016

Posted by Mr. Dihya on 9 Juli 2016

KH. Ahmad Dahlan adalah putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar, ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta saat itu. Ibunya adalah putri H. Ibrahim, yang juga bekerja sebagai penghulu Kasultanan Yogyakarta. Beliau lahir pada tanggal 1 Agustus 1868, di Yogyakarta, dan meninggal pada tanggal 23 Februari 1923, di Yogyakarta. Sejak kecil, pendidikan agama Islam sudah ditanamkan oleh sang ayah kepada Ahmad Dahlan yang terlahir dengan nama Muhammad Darwisy. Karena itulah, Ahmad Dahlan kemudian pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sebagai pengabdiannya pada agama Islam.

Usai menjalankan ibadah haji, Ahmad Dahlan menetap di Mekkah selama 5 tahun untuk memperdalam ilmu agamanya. Ia berguru ilmu agama kepada siapa saja karena bagi beliau, ilmu bisa didapatkan dari siapa pun. Di antara gurunya terdapat Muhammad Abduh Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Tidak lama setelah kembali ke tanah air, Muhammad Darwis mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan dan juga menikah dengan Siti Walidah (sepupu beliau). Siti Walidah kemudian dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan yang juga merupakan seorang Pahlawan Nasional.

Ahmad Dahlan pernah menjadi anggota Budi Utomo dan Sarikat Islam (SI) sebelum akhirnya Ahmad Dahlan membentuk organisasi bernapaskan Islam bernama Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Namun, Ahmad Dahlan menegaskan bahwa organisasi yang dibentuknya ini bukan bersifat politik, melainkan organisasi yang bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. Ahmad Dahlan mencoba menerapkan Muhammadiyah untuk aktif melakukan dakwah dan pendidikan yang disemangati oleh nilai-nilai pembaruan dalam Islam.
Pada awalnya, Muhammadiyah banyak ditentang dan dianggap menyalahi agama Islam. Bahkan KH. Ahmad Dahlan difitnah sebagai Kyai Palsu dan Kyai Kafir. Namun, berkat usaha dan kerja keras Ahmad Dahlan yang dibantu oleh kawan-kawannya, Muhammadiyah tetap berdiri tegar dan membantu perjuangan kemerdekaan. 

Karena pengikut Muhammadiyah terus berkembang pesat maka KH. Ahmad Dahlan memohon izin badan hukum untuk Muhammadiyah kepada pemerintah Hindia Belanda pada 20 Desember 1912, sayang permohonan tersebut ditolak. Dengan semangat dan kegigihan beliau, pada 22 Agustus 1914 turunlah izin dari Belanda, namun khusus untuk wilayah Yogyakarta saja. Hal ini dikarenakan ada kekhawatiran dari pihak Belanda bahwa Muhammadiyah berkembang sangat pesat. Benar saja, sekitar tahun 1921 Muhammadiyah sudah berkembang hampir di seluruh Indonesia. Dengan adanya Muhammdiyah, kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di Yogyakarta sudah lebih maju dalam hal pemikiran, maupun kehidupan sosialnya.

Semakin hari organisasi Muhammadiyah semakin berkembang dan menjadi salah satu organisasi sosial yang bermanfaat dan banyak membantu masyarakat. KH. Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah dengan demokratis. Dia selalu memberi kesempatan kepada para anggotanya untuk selalu dapat berpartisipasi memberi masukan dan ide demi kemajuan organisasi Muhammadiyah. Pada tanggal 23 Februari 1923, KH. Ahmad Dahlan wafat dalam usia 54 tahun di Yogyakarta dan dimakamkan di Karangkajen.

Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh pergerakan yang banyak berjasa bagi bangsa dan agama. Beliau merupakan salah satu tokoh pembaruan Islam yang demokratis. Atas jasa dan perjuangannya itu, pemerintah menganugerahinya gelar pahlawan. Beliau adalah salah satu tokoh pelopor yang peduli pada kehidupan sosial masyarakat dan patut menjadi contoh dan teladan. Pada tanggal 27 Desember 1961, KH. Ahmad Dahlan resmi menjadi Pahlawan Indonesia.

Share This Post :
 
Copyright © 2015 Mr. Dihya. All Rights Reserved Blogger
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and CB Design