Home » » Kisah Santri Penjual Cilok yang berhasil Kuliahkan Istri Hingga S2

Kisah Santri Penjual Cilok yang berhasil Kuliahkan Istri Hingga S2

Posted by Mr. Dihya
Mr. Dihya, Updated at: April 28, 2016

Posted by Mr. Dihya on 28 April 2016

Seperti cerita-cerita sinetron di layar kaca, namun nyata terjadi…itulah gambaran perjuangan seorang santri asal Gerning Tegineneng Pesawaran Lampung dalam mengejar cita cita. Dengan berjualan cilok di Ponorogo dan menetap di sana sampai bertahun-tahun demi untuk mengantar istrinya sampai ke s2.

“Untuk itu saya harus berjualan dari sekitar jam 16.30 (setengah 5 sore) sampai sekitar jam 20.30 (setengah 9 malam), sementara pagi harinya saya gunakan untuk belanja dan memasak bahan dagangan”.

“Kalau kiat bisnis dan usaha secara umum dimana mana sama, yaitu pada menata pola pikir dan hati. Awal di Ponorogo, saya di ajari kalau ingin berwirausaha itu pertama menata hati, Ojo Kagetan, Aleman, Lecek’an. (Jangan mudah kaget baik saat sukses maupun gagal, jangan mudah lupa diri saat dipuji, jangan mudah menyerah)”. Misalnya jualan baru rame, jangan terus kredit motor baru dan motor lama dijual, nanti pusing sendiri tiap bulannya harus bayar angsuran padahal motor lama masih lancer dipakai. Kalau menuruti gengsi, ingin dipuji dan di anggap wah kita sendiri nanti yang susah. Lebih baik uangnya ditabung untuk persiapan kalau ada kebutuhan juga untuk investasi membesarkan usaha. Saya ikuti nasihat nasihat sederhana ini, alhamdulilah besar hikmahnya.”…tuturnya.

Muhamad Mualimin atau yang lebih akrab dipanggil “Limin” yang dulunya santri di pp. al-Hidayat Gerning itu, sukses mengantar sang istri yang berasal dari Lampung Tengah (keturunan Ponorogo) menyelesaikan kuliah S2 (Magister Ekonomi Syariah ) di sebuah perguruan tinggi negeri di Ponorogo.

Setelah istrinya lulus Limin sekeluarga pulang ke Lampung. Dan kini ia kembali ke habitatnya yaitu Pesantren, ia menjadi seorang ustadz/pengajar di sebuah lembaga pendidikan di desa Kibang, kecamatan Metro Kibang kabupaten Lampung Timur, sementara sang istri kini menjadi dosen.

“Setelah istri saya lulus, kami sekeluarga pulang ke Lampung. Alhamdulilah di Lampung di beri kelancaran. Saat ini saya mengajar di sebuah lembaga pendidikan SMP berbasis pesantren bernama SMP/Pesantren AL IMAM, materinya kitab kitab fiqh tingkat dasar, sedang istri saya saat ini menjadi pengajar/ dosen di STAIN Metro, Lampung Tengah”

Semoga perjalanan kisah mereka bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Aamiin. Sumber ; Lbm-Nu Lampung

Share This Post :
 
Copyright © 2015 Mr. Dihya. All Rights Reserved Blogger
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and CB Design